Ketangguhan yang Jelita

KETANGGUHAN YANG JELITA


Ia mengelola dan membesarkan bisnis perdagangan, dari tingkat domestik sampai internasional. ketekunan bersulam pikiran yang terbuka menjadikannya sebagai insan berkemampuan luar biasa. ia juga berkemampuan secara ekonomi, kemampuan berjejaring sosial yang maslahat, dan kemampuan memberikan pertolongan kepada masyarakat luas. dialah Khadijah Al-Kubro, isteri Nabi Muhammad SAW yang sangat dicinta. Khadijah mencintai kejujuran, tanggung jawab dan kebaikan sehingga ia memilih figur Muhammad yang nantinya menjadi nabi umat Islam sebagai suami.

Setelah menjadi isteri, Khadijah tetap menjalankan aktivitas sosial ekonomi yang sebelumnya telah ia bangun, akan tetapi kemampuannya melakukan reposisi peran paska berkeluarga sungguh luar biasa. bangunan bisnisnya terus berkembang, namun tidak satupun peran sebagai istri dalam rumah tangga terabaikan. lebih dari itu, kekuatan sosial ekonomi Khadijah menjadi pendukung secara totalitas dari kepemimpinan suami pada masa itu.

   Baca juga : Penyakit menular pada manusia

Esensi tugas suaminya adalah kepemimpinan dalam membawa risalah Tuhan kepada umat manusia. risalah keadilan dan kemanusiaan yang bertentangan secara radikal dengan kondisi pada masa itu. ia sangat menyadari tugas berat tersebut. tugas yang akan memberikan aliran hidup yang sarat oleh luka, kepedihan dan ancaman. sejarah mencatat bagaimana Khadijah mengambil peran normatif yang sangat substansial selain dukungan ekonomi kepada suami. setidaknya, saya menemukan empat pilar fungsi substantif yang dicontohkan oleh Khadijah melalui catatan historisnya.

Pertama, Khadijah memainkan peran sebagai pendengar yang sesejuk embun dan seluas cakrawala. setiap suami tersudut gelisah sebelum dan setelah menjadi nabi umat Islam, Khadijah menjadi pendengar yang sangat sabar atas setiap keluh kesah suami.

Kedua, peran memberi dukungan mental sehingga suami mampu bertahan karena keteguhan batin yang terkuat kan. Ketiga, Khadijah memberikan pendapat sebagai pertimbangan tentang cara memecahkan masalah-masalah yang dihadapi keluarga. hal ini memperlihatkan bagaimana wanita memiliki relasi setara dihadapan pria yang menjadi suaminya, Keempat, merawat anak-anak melalui pemberian perlindungan, kesehatan, dan pendidikan.

   Baca juga : Rahasia khasiat di balik keindahan melati

Khadijah merupakan representai ideal wanita bagi masyarakat setiap jaman. wanita ideal yang bermakna kemandirian dan berkesadaran dalam peran-peran fundamentalnya. sungguh, wanita-wanita modern perlu melihat figur Khadijah sebagai contoh relevan dalam berperanan. pada konteks kekinian, para wanita berada dalam dua kutub ekstrim. kutup pertama menarik wanita pada peranan sangat terbatas didalam rumah tangga saja. wanita, masih, berada dalam istilah konco wingking. kutup kedua adalah absolutisme bekerja, bisnis atau profesional, yang menyeret wanita pada kesibukan sosial ekonomi, sebagai wanita karir, yang seringkali meninggalkan peran pentingnya dalam rumah tangga. akan tetapi, figur Khadijah memberi konsep, dalam istilah Anthony Giddens seorang sosiolog dari Inggris sebagai the third way (jalan tengah)

konsep jalan tengah wanita adalah posisi sebagai aktor mandiri dan kreatif yang berinteraksi konstruktif dengan tanggung jawab kelembagaan keluarga sebagai istri serta ibu. interaksi konstruktif berarti bahwa wanita melakukan komunikasi intensif terhadap tanggung jawab normatifnya dalam struktur sosial yang direpresentasikan oleh lembaga keluarga. tanggung jawab normatif ini bisa dilihat dari contoh Khadijah menjalankan empat pilar substansi fungsi substantif tersebut diatas. kesibukan karir atau bisnis perlu berinteraksi secara konstruktif dengan pilar-pilar normatif substantif dalam rumah tangga. interaksi konstruktif dapat dioptimalkan ketika antara wanita dan pria menciptakan komunikasi terbuka dalam bingkai kasih sayang keluarga. ketika interaksi konstruktif gagal dilaksanakan, kemungkinan konflik atau perpecahan akan terjadi.

   Baca juga : Dampak negatif dibalik lezatnya monosodium glutamat (MSG)

Satu bangsa negara, seperti Indonesia, akan menjadi besar ketika memiliki keluarga-keluarga yang memiliki kemampuan sosial ekonomi. sedangkan keluarga memiliki kemampuan sosial ekonomi sangat ditentukan oleh bagaimana wanita bisa mandiri dan sekaligus berkomitmen menjalankan fungsi normatif substantifnya dalam keluarga. nah, wanita Indonesia memiliki pilihan yang bebas. berada dalam kutup konco wingking, absolutisme pekerjaan, atau melaksanakan konsep jalan tengah ala Khadijah Al Kubra. konsep yang saya sebut sebagai ketangguhan yang jelita.

Comments

Post a Comment