Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia

PENYAKIT MENULAR DARI HEWAN KE MANUSIA


Toxoplasmosis merupakan salah satu penyakit menular dan bersifat zoonotik/menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit tersebut dapat menginfeksi bangsa burung dan hewan menyusui (mamalia) termasuk manusia.

Angka kejadian Toksoplasmosis sangat tinggi dan terjadi hampir di seluruh dunia. Toxoplasma gondii dapat menyerang semua umur, tidak membedakan jenis kelamin, sangat berbahaya bagi terutama bagi ibu hamil karena dapat mengakibatkan cacat (Hidrosefalus, kebutaan) pada bayi yang dilahirkan bahkan kematian.

Kejadian penyakit yang tinggi, tidak perlu membuat kita "panik" yang berlebihan, karena sebenarnya kita dapat melakukan antisipasi dengan menyikapi resiko yang ada dengan melakukan pencegahan yang benar. Pemahaman penularan penyakit toksoplasma ke manusia harus diketahui secara baik, sehingga tidak salah dalam melakukan antisipasi atau pencegahan.

Solusi untuk pindah tempat tinggal bukan merupakan solusi yang tepat, karena resiko toksoplasma ada di seluruh permukaan bumi, demikian pula dengan membuang semua hewan piaraan terutama kucing dengan alasan merupakan sumber penularan, juga bukan merupakan tindakan yang bijaksana.

Sumber penularan atau masuknya Toxoplasma ketubuh manusia ada beberapa cara yaitu :

   Baca Juga : Rahasia Khasiat Dibalik Keindahan Melati

1. Melalui mulut, makan makanan yang tercemar oosista seperti sayur, buah, lalapan, makan daging yang mengandung sista seperti sate atau daging setengah matang (daging kambing, domba, sapi, ayam, babi, burung).

2. Melalui placenta ibu hamil, ditularkan dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

3. Melalui transfusi darah

4. Melalui tranplantasi organ

5. Masuk ke tubuh pada orang yang bekerja di rumah potong hewan, yang terinfeksi Toxoplasma gondii melalui mukosa kulit yang rusak, luka terpotong atau menembus konyungtiva, selain itu melalui artropoda yang terinfeksi setelah menghisap darah inang yang menderita Toxoplasma.

Toxoplasma gondii tidak tahan terhadap pembekuan dan pemanasan, tetapi tahan selama 68 hari pada suhu 4° C.

Daur Hidup Toxoplasma Gondii

Dalam daur hidup Toxoplasma gondii, kucing dan binatang sejenisnya (Felidae) merupakan inang utama (definitif), artinya kucing dapat mengeluarkan oosista yang dapat ditularkan ke orang atau hewan lain melalui tinjanya. Tetapi yang perlu diketahui bahwa tidak semua kucing mengeluarkan oosista, dan hanya kucing yang terinfeksi saja mengeluarkan oosista.

Perlu diketahui juga bahwa kucing mengeluarkan oosista dalam jumlah banyak hanya sekali saji dalam hidupnya, yaitu pada saat infeksi primer (1-2 Minggu post infeksi) setelah itu akan terbentuk kekebalan dan tidak/sangat jarang mengeluarkan oosista lagi. Berdasarkan hal tersebut kita tidak bisa "mengkambing hitamkan" bahwa kucing adalah sumber masalah yang harus dijauhkan dari kehidupan manusia.

   Baca Juga : Dampak Negatif Dibalik Lezatnya Monosodium Glutamat (MSG)

Kucing merupakan ciptaan Tuhan yang unik dan mempunyai daya hibur yang luar biasa. Sedangkan hewan lain dan manusia merupakan inang antara. Didalam usus kucing parasit akan berkembang biak secara sexual dan menghasilkan oosista, kemudian oosista dikeluarkan bersama-sama dengan tinja yang dapat hidup lebih dari 1 tahun dalam tanah/lingkungan yang kondisinya sesuai.

Jika hewan berdarah panas menelan oosista, maka oosista didalam usus akan pecah dan melepaskan 8 sporozoit, kemudian akan berkembang secara intraseluler didalam usus dan nodus limfatikus, selanjutnya takizoit akan terbentuk dan menyebar ke seluruh tubuh melalui darah dan limfe. Takizoit tersebut mungkin akan masuk kedalam otak, otot, jantung dan hati membentuk oosista yang berisi bradizoit.

Daur hidup Toxoplasma gondii akan lengkap bila oosista itu dimakan oleh kucing. Di dalam usus kucing akan terjadi perkembangan sexsual dan asexsual yang dapat membentuk generasi berikutnya setelah gamon jantan dan betina mengalami fertilisasi dan membentuk oosista lagi.

Infeksi transplantal dapat terjadi jika ibu hamil terinfeksi selama kehamilan. Kemungkinan infeksi melalui kontak langsung dengan tinja kucing yang mengandung oosista atau mengkonsumsi daging setengah matang/makanan yang terkontaminasi. Toxoplasma gondii akan berkembang didalam plasenta dan kemudian menyebar luas ke jaringan fetus sehingga akan menciptakan generasi cacat fisik maupun mentalnya.

Toxoplasma kongonital akan mengakibatkan bayi cacat, yang tampak beberapa hari/bulan setelah kelahiran seperti : Hidrocsefalus, mikrosephalus, khorioretinitis, konvulsi, kalsifikasi serebral.

   Baca Juga : Membaca Perempuan Secara Utuh

Penularan penyakit dapat terjadi dari inang antara yang satu kelainya, maupun ke inang utama atau sebaliknya. Pada hewan atau manusia yang menderita Toksoplasmosis akut, parasit tidak hanya terdapat pada organ-organ internal dan darah, tetapi terdapat juga pada tinja, urine saliva, sekresi hidung dan air susu sehingga infeksi dapat terjadi secara kontak aerogenik atau enterogenik. Hal ini biasanya terjadi pada toksoplasma bentuk proliferatif yang tidak tahan lama diluar inang.

Orang-orang yang bekerja di rumah potong hewan dapat terinfeksi toksoplasma gondii karena kontak melalui mukosa kulit yang rusak, luka terpotong atau menembus konjunctiva. Selain itu penularan juga bisa diperoleh melalui artropoda yang terinfeksi setelah menghisap darah inang yang menderita toksoplasmosis. Kucing dan anjing biasanya tertular toksoplasmosis karena sifatnya sebagai hewan pemakan daging atau karnivora.

Diagnosa

Diagnosa klinis pada Toxoplasmosis tidak menunjukkan ciri khusus, diagnosa lebih tepat dengan pemeriksaan serologis untuk mendeteksi antibodi, atau secara molekuler untuk deteksi DNA.

Pencegahan dan Pengobatan

Kucing dan sebangsanya (Felidae)(inang definitif) memainkan peranan penting dalam penularan dan penyebaran Toxoplasma gondii. Karena itu untuk membatasi penyebaran Toxoplasma yang penting adalah mencegah masuknya bentuk infektif ke dalam tubuh inang. 

Kucing piara sebaiknya diberi makanan matang dan dicegah berburu tikus/burung, supaya tidak terinfeksi Toxoplasma gondii. Kotoran kucing harus dibersihkan setiap hari (dibakar/dimasukkan tempat khusus). Untuk mencegah infeksi Toxoplasma gondii, terutama wanita hamil harus menghindari makan daging kurang matang yang mungkin mengandung sista dan sayuran mentah yang mengandung oosista yang berasal dari tinja kucing.

   Baca Juga : Mereka Ibu, Mereka Makhluk Paling Istimewa

Tindakan yang dapat dilakukan antara lain mencuci tangan sebaik-baiknya dengan menggunakan sabun, setelah memegang daging mentah. Semua alat pemotong, bak air dan bahan lain yang bersentuhan dengan daging mentah juga harus dicuci, begitu juga sayuran sebelum dimakan, karena dapat terkontaminasi tinja kucing. 

Daging harus dimasak sampai 66° C selama 20 menit atau diasap. Lakukan kontrol terhadap lalat dan kecoak yang dapat bertindak sebagai vektor. Jika ingin membatasi populasi kucing dapat dilakukan kastrasi (kebiri) pada kucing jantan atau operasi steril (ovario histerektomi) pada yang betina.

Pengobatan terhadap toksoplasmosis antara lain dengan sediaan sulfonamide (sulfadiazine, sulfamerazine, sulfamerazine, trisulfapyrimidine, sulfapyrazine, sulfalene, sulfadoxine, atau sulfamethoxazole) dan pyrimethamin.

Sulfonamide yang paling banyak dianjurkan adalah sulfadiasin, pada kucing juga bisa diberi clindamycin. Pengobatan dengan sulfadiasin dan pyrimethamin ini dapat mendepres sumsum tulang, sehingga untuk mengatasi efek tersebut dapat ditambahkan pemberian vitamin B dan asam folat. Corticosteroid sebagai anti inflamatorik dapat digunakan untuk menghambat efek hipersensitivitas, tetapi harus diberikan bersama dengan sulfadiazine dan pyrimethamin karena corticosteroid berefek imunosupresif

Berdasarkan cara penularan atau masuknya Toxoplasma ke tubuh manusia dapat diketahui bahwa resiko penularan Toxoplasmosis bukan karena banyaknya bergaul secara langsung dengan kucing, tetapi pola makan dan pola hidup bersih dan sehat berperan penting dalam upaya antisipasi masuknya oosista kedalam tubuh manusia.

   Baca Juga : Gangguan Berbicara pada Anak Usia Dini

Data-data menunjukkan bahwa distribusi Toxoplasmosis pada hewan maupun manusia cukup  luas dengan berbagai resikonya, karena itu perlu kewaspadaan terhadap penyakit ini. Pencegahan merupakan upaya yang paling baik, mengingat diagnosa dini dan pengobatan membutuhkan biaya yang cukup mahal. 

Pemelihara hewan kesayangan/ternak harus memperhatikan kesehatan hewannya dan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Edukasi berupa penyuluhan untuk memberikan informasi tentang toksoplasmosis pada masyarakat khususnya wanita usia produktif perlu ditingkatkan. Karena akibat yang akan diderita oleh bayi dari ibu yang terkena Toxoplasmosis sangat berat (cacat fisik maupun mental).

Comments

Post a Comment